Cerpen : "Kejujuran Seorang Adik Disaat Kakaknya Sakit Keras"

Disuatu kala, hiduplah dua orang anak remaja yang memiliki latar belakang yang amat sedih. Kakaknya bernama Berliana, dan adiknya bernama Mariana. Kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan mobil saat Berliana akan naik kelas 2 SMP, sedangkan Mariana akan masuk Sekolah Dasar.

Semenjak kepergian kedua orang tua mereka, Kakaknya berusaha mencari nafkah untuk membiayai sekolah adiknya yang masih kecil. Namun adiknya tidak bisa mendengar perkataan kakaknya dan membuat sakit hati kakaknya, itu semua ditahan olehnya karena ia sangat menyayangi adiknya itu, dan tidak mau membuat adiknya kecewa oleh dirinya. Berliana berfikir, kalau mereka hanya hidup berdua,sehingga dia tidak mau membuat adiknya tidak suka dengannya.

Berliana mulai mengumpulkan uang agar adiknya tidak malu dengan teman-temannya karena rumahnya kecil dan dekil. Berliana juga berusaha memenuhi kebutuhan adiknya yang meminta ini itu pada dirinya, sementara Berliana tidak berfikir untuk memenuhi kebutuhannya. Berliana sangat menyayangi adiknya itu sehingga ia tidak perduli dengan dirinya sendiri demi kebahagiaan adiknya itu.

Suatu ketika,di sekolah Mariana ada anak baru dan sangat kaya raya. Dia sangat nakal dan suka menjahili anak-anak lain di kelasnya.

Waktu itu dia mulai tidak suka dengan Mariana karena gaya stylenya terlalu kuno. Dan dia mulai mengolok-olok Mariana saat pulang sekolah hingga Mariana menangis.

Setibanya di rumah, Mariana marah dan kesal pada kakaknya dan mulai merusak barang-barang yang ada di rumah dan menyalahkan kakaknya Berliana.

Saat itu juga Berliana merasa sangat amat bersalah dan mengurung diri di kamar. Tibalah malam, dan hujan yang amat deras. Waktu itu pukul 19.30. Berliana menangis di kamarnya dan bertanya pada Tuhan dalam doanya. Dia bertanya pada Tuhan. “Tuhan, apakah dosaku? hingga adikku amat membenci sifatku?” hikss.. hikss.. hikss…

Keesokan harinya, Mariana sekolah tanpa diantar karena masih marah pada kakaknya. Sesampainya disekolah, dia mulai bermalas-malasan di bangku dan meja tempat ia duduk. Sehingga membuat gurunya marah dan menghukumnya di luar kelas.

Dia dihukum hormat bendera di luar. Akan tetapi dia lari dari lapangan dan duduk diam di kantin dan memaki guru yang menghukumnya. Setelah bell menandakan pulang berbunyi, Mariana kembali ke kelas dan mengambil tasnya. Saat dia mengambil tasnya dia melihat buku cerita temannya yang baru dibeli oleh temannya. Tanpa segan-segan dia mengambil buku cerita temannya itu dan membawa pulang buku tersebut.

Saat ia tiba di rumah dia membaca buku tersebut hingga tertidur dalam kondisi kamar berantakan. Kakaknya masuk ke kamar Mariana untuk membersihkan kamarnya. Kakaknya melihat buku yang tidak pernah dilihat oleh kakaknya. Dia membangunkan adiknya dan bertanya pada adiknya.

“Marianaaa! Buku siapa iniii?!”. Mariana pun akhirnya marah dengan kakaknya karena masuk kamarnya tanpa seizinnya. Mariana menjawab pertanyaan kakaknya dengan nada tinggi. “Ya buku ku laaaahhhh!”. Kakaknya tidak sanggup lagi menghadapi sikap adiknya dan akhirnya menampar adiknya itu sambil nangis tersedu-sedu.

Adiknya  menangis dan mengusir kakaknya keluar dari kamarnya. Dia menangis dan memasukan baju-bajunya dikoper. Dia kabur dari rumah lewat jendela, Kakaknya khawatir karena adiknya tidak menjawab gedoran pintu kakaknya.

Akhirnya kakaknya mendobrak pintu dan mendapati kamar yang berantakan, namun tidak mendapati adiknya. Dia sadar kalau adiknya kabur dari rumah. Dengan kekhwatiran tinggi kakaknya berlari ke luar rumah dan mencari adiknya.

Pada saat ia mencari adiknya tiba-tiba dia terjatuh dan tidak menyadarkan diri. Orang- orang yang ada disekitaran situ langsung membawa Berliana ke Rumah Sakit. Saat tiba di rumah sakit, dokter memeriksa Berliana. Setelah di periksa ternyata kakaknya terkena penyakit kanker stadium akhir. Kakaknya kaget, dan menangis.

Sementara adiknya tidak mengetahui keberadaan kakaknya di rumah sakit. Adiknya tidak mempunyai uang dan mulai mengambil uang di toko-toko. Karena sudah tidak sanggup dengan kehidupan terlantarnya itu, akhirnya dia kembali ke rumah kakaknya. Setibanya   di rumah, dia mendapati kakaknya sedang membereskan rumah dan meletakan tas kakaknya di meja ruang tamu. Mariana mengambil dompet kakaknya dan mengambil setengah uang kakaknya itu. Dia mengambil uang kakaknya sebanyak Rp 700.000. dan menyimpan uang itu didalam tasnya. Ternyata uang yang di ambil olehnya itu adalah uang untuk biaya pengobatan rumah sakit kakaknya. Berliana mengecek uangnya dan dia menyadari uangnya kurang, dan bertanya kepada adiknya itu.

“Dek.. Kamu lihat uang kakak tidak?” Mariana menjawab tidak. Dia tidak mengetahui kalau uang tersebut akan di pakai kakaknya untuk membiayai pengobatan. Akhirnya kakaknya cerita ke adiknya kalau kakaknya mengidap penyakit keras dan berada dipengujung antara hidup dan mati.

Adiknya, Mariana menangis mendengar kakaknya Berliana sakit keras. Akhirnya adiknya, Mariana jujur kalau dia yang mengambil uang pengobatan kakaknya itu. Dia mengembalikan uang pengobatan kakaknya dan kakaknya memakai uang itu untuk pengobatannya.

TAMAT.

Amanatnya : Jujurlah dalam segala hal yang akan kita lakukan, agar tidak membuat orang lain kesusahan dengan apa yang kita lakukan.

Penulis : Desnauly Velisha Samosir

SMP Negeri 2 Jayapura